Ayo ke pulau Sumba

Posted: July 9, 2012 in Uncategorized

Wisata Sumba

Pulau Sumba dapat dicapai melalui udara lewat dua bandaranya. Bandar udara Tambolaka di Sumba Barat Daya dan Bandar Udara Umbu Mehang Kunda di Sumba Timur.

Penerbangan dilayani setiap hari oleh Merpati, Batavia dan Transnusa. Dari Jakarta pesawat akan transit di Denpasar, Bali sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau ini. Penerbangan oleh Merpati bertujuan akhir ke Kupang, dengan jalur Denpasar-Tambolaka-Waingapu-Kupang dan sebaliknya. Perjalanan udara dari Tambolaka ke Waingapu memakan waktu kurang dari 10 menit, saat yang tepat untuk mengamati Sumba dari udara.

Pulau ini juga bisa dicapai melalui laut dari pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat dan Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Transportasi

Jangan lupa membawa peta pulau maupun peta kota untuk memperkirakan jarak dan lokasi. Peta dapat diunduh dari beberapa situs panduan perjalanan.

Kondisi jalan utama yang menghubungkan kota-kota utama di Sumba sudah relatif baik. Jalan-jalan yang lebih kecil masih banyak mengalami kerusakan, berlubang dan berlumpur saat hujan. Ada beberapa jembatan yang masih dalam perbaikan sehingga pengendara kendaraan bermotor harus menyeberangi sungai.

Transportasi umum tersedia pada jalur-jalur utama. Angkutan antar kota menggunakan mobil elf, biasanya sangat penuh sampai penumpang bergelantungan di pintu dan atap mobil. Jalur menuju daerah yang lebih terpencil dilayani oleh beberapa truk dengan jadwal tak menentu.

Dua kota besarnya, Waingapu dan Waikabubak dapat dicapai dengan travel seharga Rp 50 ribu dengan waktu tempuh 5 jam. Travel akan menjemput dan mengantar penumpang ke tempat tujuan.

Pengelola hotel biasanya bisa membantu mencari motor maupun mobil yang disewakan. Tarif penyewaan motor lengkap dengan pemandu Rp 200 ribu. Adapun tarif sewa mobil mulai Rp 400 ribu.

Kuliner dan suvenir

Hampir tidak ada makanan khas yang dijual di Sumba. Ditambah lagi, jarang sekali ada warung yang menjual makanan. Tempat makan hanya ada di pusat kota. Meski sebagian besar penduduk beragama Kristen, makanan halal dapat diperoleh dengan mudah. Jika ingin pergi jauh seharian ke daerah terpencil, sangat disarankan untuk membawa bekal dari kota.

Oleh-oleh khas Sumba adalah ikat tenun. Beberapa kampung adat juga merupakan penghasil ikat tenun terbaik. Sempatkan melihat proses tenun dan pewarnaan dengan menggunakan bahan alami yang didapat dari alam. Motif tenunan berbeda di masing-masing daerah. Sumba barat punya tenunan bermotif lebih sederhana dari Sumba Timur.

Penginapan

Ada beberapa pilihan penginapan murah seharga Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu, terutama di ibukota kabupaten. Biasanya hotel juga menyediakan transportasi dari dan menuju bandara. Ada pula pilihan untuk menginap di resort berbintang seperti Nihiwatu di Sumba Barat.

Pilihan waktu terbaik

Wisatawan yang berkunjung pada musim hujan akan bertemu Sumba yang hijau, basah dan bersyukur atas hujan. Padang sabana terbentang seperti karpet hijau sejauh mata memandang.

Mengunjungi Sumba pada musim hujan artinya harus siap menembus jalan yang berubah menjadi kolam berlumpur. Pada umumnya kondisi jalan utama Sumba sudah cukup bagus. Namun untuk menuju pantai maupun kampung adat di pedalaman, perjalanan harus melewati jalan tanah yang akan becek ketika hujan turun.

Tak demikian keadaannya pada musim kemarau. Saat itu padang hijau akan diganti warna cokelat karena rumput kekeringan. Sumba memang masyhur dengan cuacanya yang panas dan kering. Taufik Ismail dalam puisinya yang berjudul Beri Aku Sumba menceritakan Sumba sebagai “cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari.”

Saat musim panas, transportasi menuju tempat terpencil lebih mudah. Langit nampak biru dengan malam penuh bintang sehingga memungkinkan petualangan di alam bebas seperti hiking atau berkemah.

Upacara adat

Selain memperhitungkan cuaca, waktu terbaik untuk melakukan perjalanan di pulau ini adalah saat digelarnya upacara adat. Upacara yang sayang untuk dilewatkan adalah Pasola, “perang” dua pasukan berkuda dengan cara melempar lembing dari atas kuda.

Upacara adat Pasola digelar empat kali setahun di empat tempat berbeda, biasanya pada Februari dan Maret. Hanya pemuka adat yang bisa menentukan kapan tanggal pasti Pasola digelar, karena upacara ini harus dilakukan bertepatan dengan munculnya cacing Nyale dari laut.

Upacara dimulai sejak dini hari dengan kegiatan mencari nyale di pantai. Sesudahnya barulah para rato bersiap di atas kuda, tanpa pelana. Pasola merupakan kegiatan yang berisiko tinggi karena melibatkan . Peserta Pasola tak takut darah yang tumpah. Luka dianggap biasa dan kematian tak menyisakan dendam.

Adapun pada bulan Oktober atau November terdapat upacara penutupan Wula Podu di Waikabubak, Sumba Barat. Wula podu adalah bulan larangan yang berlaku di Kampung Tarung, Prai Klembung dan Waitabar. Pada bulan larangan para penghuni kampung banyak dilarang melakukan berbagai kegiatan – bahkan tak boleh menangisi keluarga yang meninggal. Pada akhir Wula Podu penduduk mengadakan pesta adat yang sangat meriah dengan korban binatang dan tari-tarian.

Upacara pemakaman juga menjadi atraksi menarik bagi para turis. Pemeluk kepercayaan Marapu percaya bahwa orang mati membutuhkan bekal untuk pergi ke alamnya. Jenazah akan dibungkus dengan berlapis-lapis kain tenun, diiringi dengan penyembelihan korban hewan dalam jumlah banyak. Puluhan kerbau, puluhan babi dan ratusan ayam dipercaya bisa menjadi bekal almarhum menjadi roh penghuni Marapu.

Semua upacara ini tidak diadakan secara teratur menurut kalender masehi. Untuk mengetahui kapan upacara-upacara ini diadakan, sebaiknya hubungi biro perjalanan maupun hotel sebelum merencanakan perjalanan.

Air Terjun Matayangu

Posted: July 9, 2012 in Uncategorized

Bosan dengan tempat wisata yang itu-itu saja? Air Terjun Matayangu mencoba untuk memberikan suasana yang berbeda. Air terjun ini berada di Desa Waimanu, Kecamatan Katikutana, Nusa Tenggara Timur. Air terjun ini masih sangat asri dan jarang dieksplor oleh manusia.

Masyarakat sekitar yang juga sangat memelihara alam sebagaimana adanya sehingga memberikan daya tarik natural yang sangat memesona dengan gemuruh air terjun bagaikan mutiara putih yang berkilau diterpa matahari siang. Kicauan burung-burung dan dedaunan yang ditiup angin akan membuat Anda merasa nyaman dan betah untuk menikmati suasana air terjun sambil berenang di kolam dengan hempasan air dari puncak tebing.

Suasana hutan musim semi dan tebing-tebing yang terjal dapat Anda saksikan jika Anda berkunjung ke objek wisata ini. Wajar saja, Air Terjun Matayangu terletak di dalam Taman Nasional Manupeu. Jika beruntung, Anda akan melihat berbagai kupu-kupu yang indah. Sebab, di taman nasional ini memang terdapat 57 jenis kupu-kupu termasuk tujuh endemik Pulau Sumba, yaitu Papilio Neumoegenii, Ideopsis Oberthurii, Delias Fasciata, Junonia Adulatrix,Athyma Karita, Sumalia Chilo, dan Elimnia Amoena.

Kurang puas dengan air terjunnya, Anda juga bisa berjalan-jalan mengelilingi taman nasional seluass 88.000 hektar ini. Terlalu luasnya, mungkin Anda tidak akan bisa menyaksikan seluruh keindahan taman nasional beserta air terjunnya dalam waktu satu hari.

Waktu terbaik yang disarankan untuk mengunjungi taman nasional ini adalah bulan Maret sampai Juni dan Oktober sampai Desember. Sebab, di bulan itu lah air terjun akan memuntahkan air dengan debit yang maksimal.

Untuk mencapai taman nasional ini, Anda bisa melalui rute yang biasa digunakan oleh para wisatawan. Perjalanan di awali dengan menggunakan pesawat terbang dari Kupang menuju Waingapu sekitar 1 jam. Lalu, dari Waingapu menuju ke Waikabubak dengan kendaraan roda empat selama sekitar 2 jam.

Keramahan dan kehangatan warga sekitar dan keindahan alam serta ekosistem di dalamnya sangat menarik untuk dikunjungi. Tunggu apa lagi? Jadikan Air Terjun Matayangu di agenda liburan Anda!

MAMULI Kebudayaan Sumba

Posted: July 9, 2012 in Uncategorized

Perhiasan emas memiliki peran penting dalam marapu, kepercayaan adat yang masih dipraktekkan di pulau Sumba, Indonesia Timur. Dalam ritual serah terima hadiah yang menyertai upacara pernikahan, kunjungan persahabatan dan ritual lainnya, perhiasan emas dan benda-benda logam yang secara simbolis dianggap maskulin, akan dipertukarkan dengan kain yang secara simbolis dianggap feminin. Benda yang dianggap paling penting dalam adat Sumba ini adalah perhiasan emas berbentuk Omega yang disebut Mamuli.
Jaman dahulu, ketika masyarakat Sumba masih melakukan kebiasaan menarik daun telinga hingga panjang, mamuli digunakan sebagai perhiasan telinga. Namun sekarang mamuli digantungkan di leher sebagai liontin atau digunakan sebagai hiasan pakaian.
Dalam kebudayaan Sumba, logam mulai dipercaya berasal dari langit.

Matahari dibuat dari emas dan bulan-bintang dibuat dari perak. Emas dan perak tertanam di bumi karena matahari dan bulan tenggelam atau karena bintang jatuh dari langit. Benda yang terbuat dari emas menunjukkan kekayaan dan berkah dari Tuhan. Mamuli disimpan bersama benda-benda keramat lainnya oleh suku Sumba dan digunakan antara lain oleh dukun sakti untuk berhubungan dengan arwah nenek moyang.

Mamuli yang paling berharga dan dianggap kuat jarang dikeluarkan dari tempat penyimpanan karena dipercaya memiliki kesaktian yang bisa menimbulkan bencana alam atau membawa malapetaka bagi orang di sekitarnya. Mamuli juga digunakan sebagai jimat atau mahar pernikahan bagi pengantin perempuan.
Secara umum mamuli mengambil bentuk alat kelamin perempuan, namun sifat feminin atau maskulin mamuli ditentukan oleh karakteristik sekundernya. Mamuli “jantan” memiliki bentuk dasar yang melebar, yang dihiasi oleh gambar halus berbentuk manusia, hewan atau benda lain. Mamuli yang memiliki detil rumit ini menggambarkan para petarung bersorban dan bercawat yang memegang pedang dan tameng, sedang berjalan dengan gagah didampingi oleh figur kecil yang tampak dalam posisi berdoa.

Burung Kaka Tua Asli Sumba

Posted: July 9, 2012 in Uncategorized

Tak hanya Komodo, Indonesia sebenarnya kaya akan satwa endemik yang layak dibanggakan dan perlu mendapat perhatian. Aneka jenis burung endemik di pulau Sumba,NTT, misalnya, kini populasinya terancam punah akibat perburuan liar. Perlu keterlibatan serius yang dilandasi rasa cinta dari berbagai kalangan untuk melestarikannya.
Di Sumba, beberapa tahun terakhir ada kelompok warga yang secara rutin menggelar patroli swadaya sebagai bentuk kepedulian. Pagi dan sore, dua kali dalam seminggu dan dalam jumlah yang tak tentu warga desa Manurara, Kecamatan Katiku Tana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah, yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan (KMPH) melakukan aksi patroli.
Tidak seperti lazimnya patroli yang kerap dilakukan oleh aparat polisi hutan dan pengelola Taman Nasional yang mengenakan atribut lengkap, seperti sepatu bot, seragam dan senjata. Warga di sana justru tak beralas kaki dan hanya mengenakan pakaian seadanya.

Kendati demikian, mereka tetap bersemangat mendaki dan menuruni bukit juga menyisir hutan guna mengawasi keberadaan satwa endemik khususnya burung endemik di sekitar desanya, yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Manupewu Tanadaru.
Jika menemukan aktifitas mencurigakan, mereka akan melakukan pendekatan persuasive, namun jika diabaikan, mereka mengaku tidak segan untuk mengambil tindakan tegas atas nama kelestarian dan kecintaan pada alam dan burung kebanggaan mereka. “Biasa sudah kami orang kampong jalan tidak pakai sandal. Kalau kami ketemu orang tebang hutan atau memburu burung, kami akan tegur namun jika melawan dan macam macam, apalagi mau main kasar, kami tebas,”jelas polos namun tegas, Umbu G. Radjang, Kepala Desa Manurara, kala ditemui ketika sedang berpatroli bersama anggota KMPH.

Bentuk lain kecintaan mereka pada satwa endemic, warga juga mengelola kandang penangkaran burung endemik Sumba. Belasan Nuri Bayan dan Kakatua Jambul Kuning Sumba, hasil sitaan, di rawat di kandang penangkaran mini di pinggiran hutan Taman Nasional.
Tak hanya di desa, kecintaan pada burung endemik/juga dilakukan oleh kelompok pemuda Wailiang di kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Keterbatasan peralatan dan dana tidak jadi halangan mereka untuk mensosialisasikan ragam seruan cinta lingkungan dan burung endemik/lewat radio Maraga FM/yang merupakan sebuah radio komunitas itu.” Kami setiap hari senantiasa menyuarakan kepedulian lingkungan hidup khsusunya penyelamatan Burung Endemik dari ancaman kepunahan. Kami memang penuh keterbatasan dalam modal, namun kami tetap bertekad untuk terus berjuang walau terkungkung keterbatasan,” tandas Yasser Ararafat, seorang penyiar senior di radio itu.
Adapun burung yang merupakan satwa endemic (khas atau tidak ada ditempat lain di dunia) itu diantaranya adalah Kakatua Jambul Kuning, Nuri Bayan, Julang Sumba, Punai Sumba, Walik Rawamanu, Sikatan Sumba, Burung Madu Sumba, Gemak dan Punggok Sumba, Serta Punggok Wengi.

Sumber : lamunde22.wordpress.com

Tidak mengherankan apabila kita menemukan deretan nama di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mirip atau sama dengan nama-nama jawa zaman Majapahit. Nama orang, gelar, nama benda dan berbagai hal, termasuk bentuk rumah (sumba), alat senjata, alat kerawitan dan beberapa upacara ritus.
D.K. Kolit dalam pengaruh Majapahit Atas Kebudayaan Nusa Tenggara Timur menyebutkan sederetan nama di NTT yang mempunyai kaitan dengan nama-nama Jawa (Majapahit). Umpamanya, Jawa, Gajah Mada, Bata, jati, Giri, Pati Gela, Nala, Bako, Dewa, Paji, Demang, Rangga, Sima, Leko, Dara, Wonga (1982:48).
Tidak adanya pencatat sejarah di NTT menyebabkan hilangnya peristiwa bersejarah masa lalu. Misalnya beberapa nama pahlawan Sumba yang gigih menentang kolonial Belanda sulit dilacak kisahnya. Sebut saja Umbu Rara Meha di Sumba Timur, Umbu Tagela Bani, Lelu Atu dan Wona Kaka di Sumba Barat. Khusus untuk pahlawan Wona Kaka dikhabarkan beliau di buang ke Nusa Kambangan pada tahun 1913, sedangkan 66 orang kawan seperjuangannya dibuang ke Aceh, Pangkal Pinang, Batavia (Jakarta), dan lain-lain.
Demikianlah pergolakan Majapahit dengan Mahapati Gajah Mada di Sumba hanya samar-samar dikisahkan dari mulut ke mulut. Ditemukan pohon Maja (Sumba: bila) dalam jumlah besar hampir diseluruh pesisir Sumba, lalu dituturkan, bahwa pohon tersebut ditanam oleh Gajah Mada ketika pertama kali mendarat di pulau Sumba.
Di Sabu salah satu pulau di NTT masih ada upacara keagamaan asli yang disebut pemotong wawi maja (babi untuk menghormati Gajah Mada). Menurut kepercayaan sana, wawi maja adalah babi yang didatangkan dari Majapahit (tempo dulu) untuk ritus keagamaan di Sabu.
Sumba, Nusa Cendana, atau pulau sandlewood, yang kini tinggal legenda karena sisa-sisa cendananya yang terus dicuri dan diseludupkan, merupakan sebuah pulau yang agak terpencil dari gugusan pulau lainnya di NTT. Sebagian besar penduduknya masih beragama Marapu (agama asli).
Dari cerita rakyat dapat dipastikan bahwa dulu Sumba selalu disinggahi perahu/kapal pedagang. Bahwa orang Sumba juga diajak untuk berlayar. Diceritakan mereka menyinggahi pelabuhan tujuh kali. Barangkali itulah Sabu, Timor, Flores, Sumbawa, Lombok, Bali dan Jawa. Pada abad ke-16 dikisahkan ada kapal-kapal yang membawa emas dari kepulauan Kuria-Muria dan menukarnya dengan kuda Sandlewood, sehingga sebelum pendudukan Jepang ada bangsawan Sumba yang memiliki emas sampai 100 kg.
Yang menyolok dalam cerita rakyat Sumba adalah adanya dua tokoh yakni, Umbu Ndilu dan Umbu Mada (Sumba Timur), atau Rato Ndelo dan Rato Mada (Sumba Barat). Rato dan Umbu merupakan gelar bangsawan. Bandingkan ratu dengan empu di Jawa. Kedua tokoh yang merupakan kakak beradik ini (dalam cerita Sumba) selalu muncul dalam sikap perkasa. Gagah, berani, berwibawa, lagi cakap.
Begitu kentalnya nama kedua orang ini hingga diabadikan dalam nama-nama orang Sumba bahkan hingga saat ini. Banyak orang Sumba yang memakai nama Ndilu Hamaratu, Mada Lughu, Palonda Mada, bahkan suku Kodi di Sumba Barat mengabadikan salah satu tokoh dalam marga besar yang disebut Walla Mada (turunan Mada).
Dalam bahasa baitab suku Kodi, kedua tokoh itu selalu disanjung dalam ungkapan, ”Ndelo ana Rato, Mada Pera Konda” yang bermakna Ndelo Putra Bangsawaan, Mada Nahkoda Agung. Jika Ndelo atau Ndilu adalah laksamana Nala (dalam kerajaan Majapahit) sudah tentu terjadi salah kaprah menyangkut julukan Mada Pera Konda, yang seharusnya Ndelo Pera Konda agar sesuai dengan profesi Laksamana Nala sebagai panglima perang. Tapi, agak rancu juga, karena di Sumba Timur selain nama Ndilu ada juga Nola yang mendekati Nala.
Pada bulan Februari suku Kodi, merayakan pesta Nale yang ditandai dengan pasola/paholang (perang-perangan) mengingatkan kita pada pasawoan di Jawa. Disini juga ada keraguan jika Nale disamakan dengan Nala, meskipun Nale berasal dari laut yang ditandai dengan datangnya cacing Wawo. Karena Nale ini dianggap Dewi Padi (Biri Koni) yang dapat disamakan dengan Dewi Sri di Jawa.
Di kecamatan Tabundung Sumba Timur ditemukan nama Majapahit dan Hayam Wuruk yang menurut lafal sana diucapkan sebagai Manjapalit dan Mehanguruk. Keduanya nama orang, karena menurut cerita rakyat Tabundung justru nenek moyang mereka yang lebih dekat dengan Patih Gajah Mada (apalagi letak daerah mereka dipinggir pesisir yang banyak pohon Maja).
Memang banyak nama orang Sumba yang benar-benar mengingatkan kita pada nama-nama zaman Majapahit. Misalnya, Rangga Wuni dan Rangga Lawe (Sabu: Raga) di Kodi, nama Rangga sangat dominan, bahkan ada yang bernama Rangga Wuni. Demikianlah nama Pati, Maha Pati (Kodi), Sore (nama zaman Majapahit), Hore/Hora (beberapa dialek Sumba tidak mengenal fonem s). Demikian juga nama Siwa Bala, Langga (ingat Erlangga), Ndara Moro (ingat Dara Jingga). Kata Jawa juga sangat menonjol dalam nama-nama suku Kodi seperti, Pati Jawa, Muda Dawa, Rehi Jawa, Tari Jawa, Biri Jawa. Nama Gajah Mada di abadikan dalam nama-nama Nggaja, Nggading/Nggeding (Sumba Timur), Gaja, Mada (Sabu, Laura).
Masih banyak hal yang terus mengingatkan kita pada kebudayaan Jawa seperti bentuk tombak, gong (gamelan), rumah joglo dengan soko gurunya, yaigho/zaizo (Jawa: Wayang). Jangan dikata lagi banyak sekali kata Sumba yang sama dengan bahasa Jawa. Bandingkan halaku/laku dengan mlaku (pergi), manduru/mahuru dengan turu (tidur), walu-wolu (delapan), ughi-uwi (ubi), kurang-urang (udang), pira-piro (berapa), manat-manut (ikut), rennge-rongu/rungu (dengar), langgi/langga-legi (manis), wula/wulang-wulan (bulan), ahu-asu (anjing), pena/peina-piye (bagaimana), kalambe/kalembi-klambi (baju), umah-omah (rumah), tallu/tollu-tollu (tiga), patu/pata-papat (empat), malara-lara (sakit).
Dari uraian di atas ada kemungkinan nama Mada dan Nggaja ada kaitannya dengan Gajah Mada, Nola dengan Nala, sedangkan Ndelo/Ndilu mungkin juga ada kaitannya dengan Nala. Manjapalit dan Mahanguruk adalah nama Majapahit dan Hayam Wuruk prabu Majapahit yang memerintah pada tahun 1350-1389 dengan nama Rajasanagara.

Disetiap kota besar, gedung pencakar langit dapat dengan mudah ditemui. Bangunan jenis ini tentunya memiliki kontruksi beton yang kokoh. Namun pernahkah terbayang bangunan pencakar langit, yang juga cukup kokoh walaupun tidak berkontruksi beton?

Mencakar langit sejatinya tak mesti dengan gedung berkontruksi beton, namun bisa pula dengan bangunan berbahan ilalang. Di Perkampungan Adat Wainyapu, hal itu menjadi realita.

Perkampungan ini terletak Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), propinsi NTT atau berjarak lebih dari 40 Kilometer dari Kota Tambolaka (Kota Kabupaten SBD). Perkampungan ini cukup tua. Menuju kampung ini, pengunjung akan disambut dengan hamparan kuburan batu megalith pada hamparan tanah lapang depan perkampungan.

Memasuki perkampungan, mata pengunjung akan dimanjakan bangunan rumah adat dengan menara menjulang tinggi bagai mencakar langit. Bangunan tradisional di sini tidak sedikitpun menggunakan unsur logam, semacam paku misalnya namun cukup kokoh menantang langit.


Kampung ini dihuni oleh ratusan warga 12 suku, yang tersebar pada 57 unit rumah adat. Atap ilalang dan menjulang tinggi rumah adat di perkampungan ini, sejatinya ditopang oleh empat tiang utama. Keempat tiang utama berukir itu berdiri kokoh di tengah rumah. Uniknya ditengah keempat tiang inilah tungku atau dapur berada.

Di sekitar ke-empat tiang itu pula benda-benda pusaka dan upacara disimpan. Jika beruntung, pengunjung yang datang bisa memperoleh hiburan ekstra berupa penabuhan gong dan tambur oleh penghuni kampung yang sedang bersukaria.

Aksesoris lainnya yang bisa ditemui di dalam rumah adalah tanduk kerbau dan rahang babi yang dipajang di dinding dan dibawah atap ilalang. Tak hanya menara yang mencakar langit, perkampungan yang konon telah ada sejak abad 15 silam ini, juga di padati oleh ratusan kubur batu yang seakan mengukir bumi pertiwi dan mempertontonkan kejayaan era megalithikum di Pulau Sumba yang masih bertahan hingga kini. “Perkampungan ini ada sejak abad ke-15 masehi, kalau tidak salah pada saat kerjaan Sriwijaya ada di Nusantara. Kalau kuburan megalith di Kampung ini lebih dari 500 buah,” jelas Rehy Patty, tokoh adat Wainyapu kala ditemui di Kampung itu.

Jika kota-kota besar dihiasi dengan gedung pencakar langit, perkampungan Wainyapu juga demikian adanya. Jika di kota kota besar, kepadatan para penghuni perkampungan kumuh menjadi cerita saban hari, di perkampungan ini seakan tak jauh berbeda. Sebuah rumah bisa dihuni lima bahkan lebih kepala keluarga atau rumah tangga. “Satu rumah kadang bisa 20 sampai 30 orang atau dua sampai lima rumah tangga. Kalau masak nasi bisa sampai empat periuk,” urai polos Martha Chapa, salah seorang ibu rumah tangga di kampung ini dengan bahasa Indonesia seadanya.

Jenuh dengan kepenatan di kota besar dan keangkuhan gedung pencakar langitnya? Mungkin pencakar langit dan suasana khas ala kampung Wainyapu, bisa menyegarkan dan menciptakan kesan yang berbeda dan tak terlupakan.
Sumber : http://lamunde22.wordpress.com

Membedah pulau Sumba terbesit pesan Sumba adalah pulaunya para arwah. Di setiap sudut kota dan kampungnya tersimpan persembahan dan pujian para abdi. Nama Sumba atau Humba berasal dari nama ibu model Rambu Humba, istri kekasih hati Umbu Mandoku, salah satu peletak landasan suku-suku atas kabisu-kabisu Sumba. Dua pertiga penduduknya adalah pemeluk yang khusuk berbakti kepada arwah para leluhurnya, khususnya kepada bapak besar bersama, sang pengasal semua suku.

Marapu menurut petunjuk dan perhitungan para Rato, Pemimpin Suku dan Imam agung para Merapu. Altar megalithic dan batu kuburan keramat yang menghias setiap jantung kampung dan dusun (paraingu) adalah bukti pasti akan kepercayaan animisme itu.


Sumba, pulau padang savana yang dipergagah kuda-kuda liar yang kuat yang tak kenal lelah menjelajah lorong, lembah dan pulau berbatu warisan leluhur. Binatang unggulan tingkatan mondial itu semakin merambah maraknya perang akbar pasola, perang melempar lembing kayu sambil memacu kuda, untuk menyambut putri nyale, si putri cantik yang menjelma diri dalam ujud cacing laut yang nikmat gurih.

Pasola berasal dari kata `sola’ atau `hola’, yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan.

Pasola diselenggarakan setahun sekali pada bulan Februari di Kodi, Sumba Barat Daya dan Lamboya, Sumba Barat . Sedangkan bulan Maret di Wanokaka, Sumba Barat. Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan oleh segenap warga Kabisu dan Paraingu dari kedua kelompok yang bertanding dan oleh masyarakat umum. Sedangkan peserta permainan adalah pria pilih tanding dari kedua Kabisu yang harus menguasai dua keterampilan sekaligus yakni memacu kuda dan melempar lembing (hola). Pasola biasanya menjadi klimaks dari seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka pesta nyale.

KISAH TIMBULNYA PASOLA
Menelurusi asal-usulnya, pasola berasal dari skandal janda cantik jelita, Rabu Kaba sebagaimana dikisahkan dalam hikayat orang Waiwuang. Alkisah ada tiga bersaudara: Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula memberitahu warga Waiwuang bahwa mereka hendak melaut. Tapi nyatanya mereka pergi ke selatan pantai Sumba Timur untuk mengambil padi. Setelah dinanti sekian lama dan dicari kian ke mari tidak membuahkan hasil, warga Waiwuang merasa yakin bahwa tiga bersaudara pemimpin mereka itu telah tiada. Mereka pun mengadakan perkabungan dengan belasungkawa atas kepergian kematian para pemimpin mereka.

Dalam kedukaan mahadahsyat itu, janda cantik jelita `almarhum’ Umbu Dulla, Rabu Kaba mendapat lapangan hati Teda Gaiparona, si gatot kaca asal Kampung Kodi. Mereka terjerat dalam asmara dan saling berjanji menjadi kekasih.

Namun keluarga tidak menghendaki perkawinan mereka. Karena itu sepasang anak manusia yang tak mampu memendam rindu asmara ini nekat melakukan kawin lari. Janda cantik jelita Rabu Kaba diboyong sang gatot kaca Teda Gaiparona ke kampung halamannya. Sementara ketiga pemimpin warga Waiwuang kembali dan Warga Waiwuang menyambutnya dengan penuh sukacita. Namun mendung duka tak dapat dibendung tatkala Umbu Dulla menanyakan perihal istrinya. “Yang mulia Sri Ratu telah dilarikan Teda Gaiparona ke Kampung Kodi,” jawab warga Waiwulang pilu. Lalu seluruh warga Waiwulang dikerahkan untuk mencari dua sejoli yang mabuk kepayang itu. Keduanya ditemukan di kaki gunung Bodu Hula.

Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang di kaki gunung Bodu Hula namun Rabu Kaba yang telah meneguk madu asmara Teda Gaiparona dan tidak ingin kembali. Ia meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona.

Pada akhir pesta pernikahan keluarga, Teda Gaiparona berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik Rabu Kaba. Atas dasar hikayat ini, setiap tahun warga Waiwuang, Kodi dan Wanokaka Sumba Barat mengadakan bulan (wula) nyale dan pesta pasola.

Akar pasola yang tertanam jauh dalam budaya masyarakat Sumba menjadikan pasola tidak sekadar keramaian insani dan menjadi terminal pengasong keseharian penduduk. Tetapi menjadi satu bentuk pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada sang leluhur.

Pasola adalah perintah para leluhur untuk dijadikan penduduk pemeluk Marapu. Karena itu pasola pada tempat yang pertama adalah kultus religius yang mengungkapkan inti religiositas agama Marapu. Hal ini sangat jelas pada pelaksanaan pasola, pasola diawali dengan doa semadhi dan Lakutapa (puasa) para Rato, foturolog dan pemimpin religius dari setiap kabisu terutama yang terlibat dalam pasola.

Sedangkan sebulan sebelum hari H pelaksanaan pasola sudah dimaklumkan bulan pentahiran bagi setiap warga Paraingu dan pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur sangat berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panenan. Bila terjadi kematian yang disebabkan oleh permainan pasola, dipandang sebagai bukti pelanggaran atas norma baik yang berlaku, termasuk bulan pentahiran menjelang pasola.

Pada tempat kedua, pasola merupakan satu bentuk penyelesaian krisis suku melalui `bellum pacificum’ perang damai dalam permainan pasola. Peristiwa minggatnya janda Rabu Kaba dari Keluarga Waiwuang ke keluarga Kodi dan beralih status dari istri Umbu Dulla menjadi istri Teda Gaiparona bukanlah peristiwa nikmat. Tetapi peristiwa yang sangat menyakitkan dan tamparan telak di muka keluarga Waiwuang dan terutama Umbu Dulla yang punya istri.

Keluarga Waiwuang sudah pasti berang besar dan siap melumat habis keluarga Kodi terutama Teda Gaiparona. Keluarga Kodi sudah menyadari bencana itu. Lalu mencari jalan penyelesaian dengan menjadikan seremoni nyale yang langsung berpautan dengan inti penyembahan kepada arwah leluhur untuk memohon doa restu bagi kesuburan dan sukses panen, sebagai keramaian bersama untuk melupakan kesedihan karena ditinggalkan Rabu Kaba.

Pada tempat ketiga, pasola menjadi perekat jalinan persaudaraan antara dua kelompok yang turut dalam pasola dan bagi masyarakat umum. Permainan jenis apa pun termasuk pasola selalu menjadi sarana yang ampuh. Apalagi bagi kedua kabisu yang terlibat secara langsung dalam pasola.

Selama pasola berlangsung semua peserta, kelompok pendukung dan penonton diajak untuk tertawa bersama, bergembira bersama dan bersorak-sorai bersama sambil menyaksikan ketangkasan para pemain dan ringkik pekikan gadis-gadis pendukung kubu masing-masing. Karena itu pasola menjadi terminal pengasong keseharian penduduk dan tempat menjalin persahabatan dan persaudaraan.

Sebagai sebuah pentas budaya sudah pasti pasola mempunyai pesona daya tarik yang sangat memukau. Olehnya pemerintah turut mendukung dengan menjadikan pasola sebagai salah satu `mayor event.